TRAVELING = SEKEDAR
JALAN - JALAN (?)
“Hari ini kita
makan sate lah (?)” ,ujar teman saya yang berasal dari Kalimantan Tengah. Dia
berkuliah di ITS dan saat ini menempuh semester 5, satu kelas dengan saya. Bagi
kebanyakan teman lain, kata-kata yang diucapkannya itu terdengar lebih seperti
pernyataan, dan sering kali tidak ditanggapi oleh teman-teman lainnya. Namun
sebenarnya, putra asli Suku Dayak itu bukan sedang mengajukan pernyataan
melainkan pertanyaan. Ternyata akhiran “lah” biasa digunakan oleh
saudara-saudara kita di Kalimantan Tengah juga sebagai akhiran dalam kalimat
untuk menanyakan sesuatu. Hal ini sangat berbeda dengan kebiasaan orang – orang
di Jawa yang sering menggunakan akhiran “lah” pada sebuah pernyataan, dan
terkadang perbedaan – perbedaan kecil ini dapat menimbulkan kesalahpahaman.
Perbedaan
budaya, adat serta kebiasaan ini saya pelajari pada saat liburan akhir semester
4 dimana saya mendapat kesempatan untuk bermain kerumah teman tersebut di
Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Disana saya diperkenalkan dengan berbagai
keindahan alam serta adat dan budaya yang sangat berbeda dengan yang selama ini
saya kenal sebagai orang Jawa. Salah satu budaya yang menarik perhatian adalah
prinsip rumah Bentang, dimana sebuah keluarga besar hidup rukun berdampingan
dalam satu atap tanpa mempersoalkan perbedaan agama dan kepercayaan
masing-masing. Dari pengalaman inilah
akhirnya saya sadar makna sebenarnya dari Bhinneka Tunggal Ika, slogan yang
mudah diucapkan namun sulit untuk diterapkan. Dalam sebuah buku yang pernah
saya baca dijelaskan, bahwa kemampuan “cross cultural” menempati urutan teratas
dalam lingkaran urutan softskill, yaitu sebuah kemampuan yang menaikkan tingkat
toleransi anda seiring bertambahnya pengetahuan yang dapat digunakan untuk
memaklumi dan menghargai perbedaan.
*
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun
2010, Indonesia memiliki suku bangsa sebanyak 1.128 dengan kebudayaan dan adatnya
masing-masing. Bayangkan betapa besarnya kekayaan budaya yang dimiliki negara
yang juga memiliki 17.504 pulau ini.
Tidak heran bila banyak orang dari berbagai negara ingin sekali mempelajari
atau bahkan ada yang berniat untuk merebut “harta” itu menjadi milik mereka.
Mengutip perkataan seorang berkebangsaan Jerman yang saya
temui di pesawat dalam perjalanan pulang ke Indonesia seusai mengikuti program
pertukaran pelajar di Jerman. Beliau berkata,”Hampir setiap liburan musim panas
ku habiskan di Indonesia. Ingin sekali berkunjung ke semua pulau, namun umurku
sepertinya takkan cukup untuk itu. Seharusnya kamu juga melakukannya, buat apa
susah payah pergi ke negara lain jika semua yang kamu butuhkan untuk berlibur
sudah ada di negeri sendiri”. Perkataan bule ini membuat saya agak sedikit
terhentak. Mungkin hal ini akan terdengar lumrah bagi saya bila dikatakan oleh
sesama orang Indonesia, namun lain ceritanya bila itu dikatakan oleh seorang
bule dengan raut muka yang bersungguh-sungguh dan menghayati.
Hampir seluruh waktu perjalanan kembali ke Indonesia saat itu
saya habiskan untuk berpikir dan merenungi perkataan itu. Sejujurnya, saya
memang tipe orang yang benar-benar menganggap luar negeri adalah segalanya, dan
sepertinya Tuhan mengirimkan bule itu untuk menyadarkan saya hanya dengan
beberapa kalimatnya yang sangat menusuk hati (bagi saya setidaknya).
Pergi berkunjung ataupun belajar ke luar negeri bukanlah hal
yang buruk menurut saya, apalagi didukung makin terbukanya kesempatan beasiswa
dan kemungkinan untuk melancong ala “backpackeran” dewasa ini. Ibarat orang
desa yang baru pertama kali mengunjungi mall dengan segala kemegahan yang ada,
mungkin seperti itulah yang saya rasakan saat pertama mengijakkan kaki di luar
negeri. Pendapat yang mengatakan bahwa segala hal tentang luar negeri hanya
akan merusak nasionalisme, menurut saya itu salah dan sempit pemikiran. Kita
tidak akan tahu betapa beruntungnya orang indonesia memiliki begitu banyak
pantai yang sangat indah, jika belum pernah mengunjungi wisata pantai di Jerman
yang notabene hanyalah pinggiran sungai yang disulap menjadi pantai, mungkin
seperti itulah bila dianalogikan.
Bagi sebagian orang mungkin menganggap bahwa traveling atau
jalan-jalan hanyalah kegiatan yang tidak berguna dan membuang-buang waktu saja,
namun sebenarnya dibalik itu banyak sekali hal-hal yang dapat kita pelajari,
pikirkan dan renungkan melalui pengalaman selama berpergian. Dalam hidupnya
Albert Einstein menyebutkan,”The only
source of knowledge is experience”. Betapa pentingnya sebuah pengalaman
bagi manusia, untuk memperkaya pengetahuannya, memperlebar sudut pandangnya,
membaikkan perilakunya, dan mencintai negaranya.
*
Saya dan teman-teman pernah mencoba mengikuti ritual upacara
Yadnya Kasada yang dilakukan sekali dalam setahun oleh masyarakat Tengger di
Pura Luhur Poten di lautan pasir Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Pada
awalnya kami menganggap ini sebagai hal yang sia-sia, karena memang kami belum
pernah mengikuti upacara tradisi apapun sehingga belum memiliki ketertarikan
sama sekali pada hal-hal seperti itu. Liburan panjang dan perasaan sedikit
bosan yang melanda karena tidak adanya kesibukan akhirnya mendorong kami untuk
tetap berangkat dan menyaksikan ritual tersebut bagaimanapun caranya.
Sesampainya disana, kami sedikit heran dengan jumlah
wisatawan asing yang jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan wisatawan
domestik. Seorang tukang ojek bertutur, “Turis lokalnya tahun ini dikit mas,
mungkin karena puasaan. Tp ya kalo dibandingkan sama turis bule nya memang bule
nya selalu lebih banyak tiap tahunnya”. Ternyata budaya lokal seperti ini belum
memiliki daya tarik dimata orang Indonesia sebesar daya tarik untuk berbelanja,
setidaknya itu yang kami simpulkan dari suasana saat itu, dimana wajah-wajah
pribumi lebih banyak berperan sebagai penyedia jasa ketimbang sebagai turis.
Sebelum upacara di Pura Luhur Poten, terlebih dahulu mereka
mengadakan upacara di sebuah tempat (saya lupa namanya) seperti balai desa yang
dihadiri para petinggi adat maupun pejabat daerah setempat. Beberapa hari
kemudian yang saya baca dari surat kabar, bahwa saat di balai desa tersebut,
para petinggi adat juga mengangkat seorang pengusaha menjadi bagian dari
mereka, pengusaha tersebut akan mencalonkan diri sebagai pejabat tinggi di
daerah setempat, sehingga diharapkan apabila terpilih kelak dapat memberikan
perhatian lebih kepada masyarakat suku Tengger.
Dari peristiwa ini, saya dapat merasakan jerih payah usaha
mereka untuk meneriakkan penderitaan selama ini karena kurangnya perhatian baik
dari pemerintah lokal maupun pusat, hingga mereka rela mengangkat orang lain
menjadi anggota suku Tengger dengan harapan mendapatkan perhatian yang lebih
baik. Tak hanya suku-suku diluar jawa yang kurang perhatian, ternyata di pulau
jawa pun masih banyak suku-suku yang kurang mendapatkan perhatian dari
pemerintah, kalaupun ada sedikit perhatian, jarang sekali tepat sasaran karena
kebijakan yang diambil tidak melibatkan orang-orang setempat.
*
Buku berjudul Diving
Bali, Diving Indonesia, dan
buku-buku lainnya tentang keindahan bawah laut Indonesia pernah saya temukan di
sebuah toko buku yang banyak menjual buku impor. Yang membuat miris adalah
buku-buku tersebut kebanyakan ditulis oleh orang-orang asing, ibarat sebuah
peta berisikan kekayaan yang ada didalam rumah
anda, namun dibuat oleh orang lain, seperti itulah menurut saya rasanya.
Bagaimana bisa orang asing memiliki begitu banyak data dan pengetahuan,
beberapa menjadi ahli tentang kekayaan alam yang kita miliki dan gunakan selama
ini bahkan sebagai kebutuhan hidup sehari-hari, dan yang lebih parah adalah
kita biarkan hal ini dengan bangga. Tidak hanya pengetahuan, saat ini orang
asing telah banyak menguasai sektor-sektor wisata bahari di negeri ini
khususnya di wilayah timur. Setidaknya itulah yang saya rasakan saat
mengunjungi Pulau Gili Trawangan, Lombok.
Jika anda pernah atau berencana untuk berkunjung ke pulau
tersebut, rasakanlah sensasi ‘luar negeri’nya. Dijalanan, café-café, hotel,
dive resorts, restoran, anda tidak hanya akan melihat wajah ‘bule’ bertebaran,
namun mereka juga lah mayoritas pemilik dari tempat-tempat usaha tersebut.
Sedangkan wajah-wajah pribumi seakan memiliki peran abadi sebagai buruh ataupun
penjual di pinggir-pinggir jalan. Tidak berhenti disitu, kesan Indonesia-nya
makin hilang karena beberapa cafe, hotel, dan dive resorts memasang harga produk dan jasa mereka dalam mata
uang dollar di papan pinggir-pinggir jalan.
Perasaan senang bercampur sedih saat itu memang terasa aneh,
senang karena saya tak perlu keluar negeri untuk merasakan suasana dan
sensasinya, sedih karena seperti hidup kembali di jaman penjajahan yang menjadi
trauma untuk hampir seluruh rakyat
Indonesia, pemandangan yang terlihat saat itu seakan membuktikan bahwa
perjuangan para pahlawan dijaman dulu untuk memerdekakan negeri ini dari
kekuasaan orang asing hanyalah sia-sia belaka, seperti cerita dongeng yang
diceritakan secara turun-temurun melalui pelajaran sejarah di sekolah dengan
semangat nilai, hanya itu.
*
Banyak memang permasalahan yang terjadi
di negeri ini, namun sangatlah tidak adil bila sebagai warga negara melihat
Bumi Pertiwi ini hanya dari keburukannya saja. Terutama jika belum mengenal
secara menyeluruh tentang Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Banyak sekali
kelebihan yang layak dan patut dijadikan alasan untuk bangga akan tanah air
ini, namun jika pun belum mampu untuk mengenal negeri ini secara menyeluruh,
mengutip perkataan Carl Schurz, “My country, right or wrong;
if right, to be kept right; and if wrong, to be set right”. Negaraku, tak peduli benar atau salah;
jika benar untuk dipertahankan, jika salah untuk dibenarkan.
Memang benar yang dikatakan Carl Schurz.
Dengan segala persoalan dan masalah yang ada, negara ini membutuhkan lebih dari
sekedar cercaan dari warga negaranya. Cercaan sampai kapan pun tak akan mampu meluruskan
keruwetan yang melanda Tanah air.
Kelak bila anak cucu kita bertanya,
“Dimanakah kalian waktu itu saat negeri ini diambang kehancuran?” ,apakah kita
akan menjawab, “Saat itu kami hanya berdiri (sambil mencerca), dan membiarkan
kehancuran itu terjadi.” ?
***

No comments:
Post a Comment