Sunday, September 9, 2012

Right or Wrong, it's my country.




TRAVELING = SEKEDAR JALAN - JALAN (?)


“Hari ini kita makan sate lah (?)” ,ujar teman saya yang berasal dari Kalimantan Tengah. Dia berkuliah di ITS dan saat ini menempuh semester 5, satu kelas dengan saya. Bagi kebanyakan teman lain, kata-kata yang diucapkannya itu terdengar lebih seperti pernyataan, dan sering kali tidak ditanggapi oleh teman-teman lainnya. Namun sebenarnya, putra asli Suku Dayak itu bukan sedang mengajukan pernyataan melainkan pertanyaan. Ternyata akhiran “lah” biasa digunakan oleh saudara-saudara kita di Kalimantan Tengah juga sebagai akhiran dalam kalimat untuk menanyakan sesuatu. Hal ini sangat berbeda dengan kebiasaan orang – orang di Jawa yang sering menggunakan akhiran “lah” pada sebuah pernyataan, dan terkadang perbedaan – perbedaan kecil ini dapat menimbulkan kesalahpahaman.
Perbedaan budaya, adat serta kebiasaan ini saya pelajari pada saat liburan akhir semester 4 dimana saya mendapat kesempatan untuk bermain kerumah teman tersebut di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Disana saya diperkenalkan dengan berbagai keindahan alam serta adat dan budaya yang sangat berbeda dengan yang selama ini saya kenal sebagai orang Jawa. Salah satu budaya yang menarik perhatian adalah prinsip rumah Bentang, dimana sebuah keluarga besar hidup rukun berdampingan dalam satu atap tanpa mempersoalkan perbedaan agama dan kepercayaan masing-masing.  Dari pengalaman inilah akhirnya saya sadar makna sebenarnya dari Bhinneka Tunggal Ika, slogan yang mudah diucapkan namun sulit untuk diterapkan. Dalam sebuah buku yang pernah saya baca dijelaskan, bahwa kemampuan “cross cultural” menempati urutan teratas dalam lingkaran urutan softskill, yaitu sebuah kemampuan yang menaikkan tingkat toleransi anda seiring bertambahnya pengetahuan yang dapat digunakan untuk memaklumi dan menghargai perbedaan.
*
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, Indonesia memiliki suku bangsa sebanyak 1.128 dengan kebudayaan dan adatnya masing-masing. Bayangkan betapa besarnya kekayaan budaya yang dimiliki negara yang juga memiliki 17.504  pulau ini. Tidak heran bila banyak orang dari berbagai negara ingin sekali mempelajari atau bahkan ada yang berniat untuk merebut “harta” itu menjadi milik mereka.
Mengutip perkataan seorang berkebangsaan Jerman yang saya temui di pesawat dalam perjalanan pulang ke Indonesia seusai mengikuti program pertukaran pelajar di Jerman. Beliau berkata,”Hampir setiap liburan musim panas ku habiskan di Indonesia. Ingin sekali berkunjung ke semua pulau, namun umurku sepertinya takkan cukup untuk itu. Seharusnya kamu juga melakukannya, buat apa susah payah pergi ke negara lain jika semua yang kamu butuhkan untuk berlibur sudah ada di negeri sendiri”. Perkataan bule ini membuat saya agak sedikit terhentak. Mungkin hal ini akan terdengar lumrah bagi saya bila dikatakan oleh sesama orang Indonesia, namun lain ceritanya bila itu dikatakan oleh seorang bule dengan raut muka yang bersungguh-sungguh dan menghayati.
Hampir seluruh waktu perjalanan kembali ke Indonesia saat itu saya habiskan untuk berpikir dan merenungi perkataan itu. Sejujurnya, saya memang tipe orang yang benar-benar menganggap luar negeri adalah segalanya, dan sepertinya Tuhan mengirimkan bule itu untuk menyadarkan saya hanya dengan beberapa kalimatnya yang sangat menusuk hati (bagi saya setidaknya).
Pergi berkunjung ataupun belajar ke luar negeri bukanlah hal yang buruk menurut saya, apalagi didukung makin terbukanya kesempatan beasiswa dan kemungkinan untuk melancong ala “backpackeran” dewasa ini. Ibarat orang desa yang baru pertama kali mengunjungi mall dengan segala kemegahan yang ada, mungkin seperti itulah yang saya rasakan saat pertama mengijakkan kaki di luar negeri. Pendapat yang mengatakan bahwa segala hal tentang luar negeri hanya akan merusak nasionalisme, menurut saya itu salah dan sempit pemikiran. Kita tidak akan tahu betapa beruntungnya orang indonesia memiliki begitu banyak pantai yang sangat indah, jika belum pernah mengunjungi wisata pantai di Jerman yang notabene hanyalah pinggiran sungai yang disulap menjadi pantai, mungkin seperti itulah bila dianalogikan.  
Bagi sebagian orang mungkin menganggap bahwa traveling atau jalan-jalan hanyalah kegiatan yang tidak berguna dan membuang-buang waktu saja, namun sebenarnya dibalik itu banyak sekali hal-hal yang dapat kita pelajari, pikirkan dan renungkan melalui pengalaman selama berpergian. Dalam hidupnya Albert Einstein menyebutkan,”The only source of knowledge is experience”. Betapa pentingnya sebuah pengalaman bagi manusia, untuk memperkaya pengetahuannya, memperlebar sudut pandangnya, membaikkan perilakunya, dan mencintai negaranya.
*
Saya dan teman-teman pernah mencoba mengikuti ritual upacara Yadnya Kasada yang dilakukan sekali dalam setahun oleh masyarakat Tengger di Pura Luhur Poten di lautan pasir Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Pada awalnya kami menganggap ini sebagai hal yang sia-sia, karena memang kami belum pernah mengikuti upacara tradisi apapun sehingga belum memiliki ketertarikan sama sekali pada hal-hal seperti itu. Liburan panjang dan perasaan sedikit bosan yang melanda karena tidak adanya kesibukan akhirnya mendorong kami untuk tetap berangkat dan menyaksikan ritual tersebut bagaimanapun caranya.
Sesampainya disana, kami sedikit heran dengan jumlah wisatawan asing yang jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan wisatawan domestik. Seorang tukang ojek bertutur, “Turis lokalnya tahun ini dikit mas, mungkin karena puasaan. Tp ya kalo dibandingkan sama turis bule nya memang bule nya selalu lebih banyak tiap tahunnya”. Ternyata budaya lokal seperti ini belum memiliki daya tarik dimata orang Indonesia sebesar daya tarik untuk berbelanja, setidaknya itu yang kami simpulkan dari suasana saat itu, dimana wajah-wajah pribumi lebih banyak berperan sebagai penyedia jasa ketimbang sebagai turis.
Sebelum upacara di Pura Luhur Poten, terlebih dahulu mereka mengadakan upacara di sebuah tempat (saya lupa namanya) seperti balai desa yang dihadiri para petinggi adat maupun pejabat daerah setempat. Beberapa hari kemudian yang saya baca dari surat kabar, bahwa saat di balai desa tersebut, para petinggi adat juga mengangkat seorang pengusaha menjadi bagian dari mereka, pengusaha tersebut akan mencalonkan diri sebagai pejabat tinggi di daerah setempat, sehingga diharapkan apabila terpilih kelak dapat memberikan perhatian lebih kepada masyarakat suku Tengger.
Dari peristiwa ini, saya dapat merasakan jerih payah usaha mereka untuk meneriakkan penderitaan selama ini karena kurangnya perhatian baik dari pemerintah lokal maupun pusat, hingga mereka rela mengangkat orang lain menjadi anggota suku Tengger dengan harapan mendapatkan perhatian yang lebih baik. Tak hanya suku-suku diluar jawa yang kurang perhatian, ternyata di pulau jawa pun masih banyak suku-suku yang kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah, kalaupun ada sedikit perhatian, jarang sekali tepat sasaran karena kebijakan yang diambil tidak melibatkan orang-orang setempat.
*
Buku berjudul Diving Bali, Diving Indonesia, dan buku-buku lainnya tentang keindahan bawah laut Indonesia pernah saya temukan di sebuah toko buku yang banyak menjual buku impor. Yang membuat miris adalah buku-buku tersebut kebanyakan ditulis oleh orang-orang asing, ibarat sebuah peta berisikan kekayaan yang ada didalam rumah  anda, namun dibuat oleh orang lain, seperti itulah menurut saya rasanya. Bagaimana bisa orang asing memiliki begitu banyak data dan pengetahuan, beberapa menjadi ahli tentang kekayaan alam yang kita miliki dan gunakan selama ini bahkan sebagai kebutuhan hidup sehari-hari, dan yang lebih parah adalah kita biarkan hal ini dengan bangga. Tidak hanya pengetahuan, saat ini orang asing telah banyak menguasai sektor-sektor wisata bahari di negeri ini khususnya di wilayah timur. Setidaknya itulah yang saya rasakan saat mengunjungi Pulau Gili Trawangan, Lombok.
Jika anda pernah atau berencana untuk berkunjung ke pulau tersebut, rasakanlah sensasi ‘luar negeri’nya. Dijalanan, café-café, hotel, dive resorts, restoran, anda tidak hanya akan melihat wajah ‘bule’ bertebaran, namun mereka juga lah mayoritas pemilik dari tempat-tempat usaha tersebut. Sedangkan wajah-wajah pribumi seakan memiliki peran abadi sebagai buruh ataupun penjual di pinggir-pinggir jalan. Tidak berhenti disitu, kesan Indonesia-nya makin hilang karena beberapa cafe, hotel, dan dive resorts  memasang harga produk dan jasa mereka dalam mata uang dollar di papan pinggir-pinggir jalan.
Perasaan senang bercampur sedih saat itu memang terasa aneh, senang karena saya tak perlu keluar negeri untuk merasakan suasana dan sensasinya, sedih karena seperti hidup kembali di jaman penjajahan yang menjadi trauma untuk  hampir seluruh rakyat Indonesia, pemandangan yang terlihat saat itu seakan membuktikan bahwa perjuangan para pahlawan dijaman dulu untuk memerdekakan negeri ini dari kekuasaan orang asing hanyalah sia-sia belaka, seperti cerita dongeng yang diceritakan secara turun-temurun melalui pelajaran sejarah di sekolah dengan semangat nilai, hanya itu.
*
         Banyak memang permasalahan yang terjadi di negeri ini, namun sangatlah tidak adil bila sebagai warga negara melihat Bumi Pertiwi ini hanya dari keburukannya saja. Terutama jika belum mengenal secara menyeluruh tentang Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Banyak sekali kelebihan yang layak dan patut dijadikan alasan untuk bangga akan tanah air ini, namun jika pun belum mampu untuk mengenal negeri ini secara menyeluruh, mengutip perkataan Carl Schurz, “My country, right or wrong; if right, to be kept right; and if wrong, to be set right”. Negaraku, tak peduli benar atau salah; jika benar untuk dipertahankan, jika salah untuk dibenarkan.
         Memang benar yang dikatakan Carl Schurz. Dengan segala persoalan dan masalah yang ada, negara ini membutuhkan lebih dari sekedar cercaan dari warga negaranya. Cercaan sampai kapan pun tak akan mampu meluruskan keruwetan yang melanda Tanah air.
         Kelak bila anak cucu kita bertanya, “Dimanakah kalian waktu itu saat negeri ini diambang kehancuran?” ,apakah kita akan menjawab, “Saat itu kami hanya berdiri (sambil mencerca), dan membiarkan kehancuran itu terjadi.” ?

***

No comments: